R
B
Barangkali, tidak ada yang benar-benar kebetulan. Ada pertemuan yang tampak biasa di mata manusia, tetapi diam-diam telah lama direncanakan oleh langit. Segala sesuatu yang indah sering kali lahir tanpa suara. Tidak dengan kembang api, tidak dengan musik yang megah dan tidak pula dengan kisah yang sengaja diciptakan agar dikenang. Ia lahir begitu saja. Di sebuah ruang kelas, diantara seragam putih abu yang masih menyimpan mimpi-mimpi masa remaja. Tak ada yang tahu bahwa pada hari itu, Tuhan sedang menulis bab pertama dari sebuah kisah yang kelak akan berakhir di pelaminan.
Kami bertemu seperti jutaan remaja lain yang setiap pagi datang ke sekolah. Kami saling mengenal sebagaimana teman-teman lain saling mengenal. Kami tertawa, berbincang, dan menjalani hari tanpa pernah menyadari bahwa waktu sedang bekerja dengan caranya sendiri. Karena cinta yang paling besar sering kali datang dengan langkah yang paling pelan. Takdir tidak selalu mengetuk pintu dengan suara yang keras. Kadang ia hanya duduk diam di samping, sampai suatu hari aku sadar bahwa dialah rumah yang selama ini ku cari.
Pada 7 April 2016, tidak ada yang berubah pada langit. Matahari tetap terbit. Burung-burung tetap bernyanyi. Dunia berjalan seperti biasanya. Namun bagi kami, hari itu adalah awal dari semesta yang baru. Bukan karena kami menemukan cinta. Melainkan karena kami memilih untuk menjaganya. Kami masih terlalu muda untuk memahami arti selamanya. Namun kami cukup berani untuk berkata, “Mari kita lihat sejauh apa Tuhan akan membawa langkah ini.” Dan waktu pun mulai berjalan. Perlahan, tenang. Mengajarkan bahwa mencintai seseorang bukanlah tentang seberapa sering mengucapkan “Aku mencintaimu.” Tetapi tentang seberapa sering memilih orang yang sama, bahkan ketika hidup sedang tidak mudah.
Kami belajar bahwa cinta bukan hanya tentang bunga yang mekar. Cinta juga tentang akar yang tetap bertahan ketika badai datang. Ada tawa yang memenuhi hari. Ada air mata yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun. Ada rindu yang hanya dipahami oleh dua hati. Ada doa-doa yang diam-diam menyebut nama yang sama setiap malam. Dan dari semua musim yang kami lewati, kami menemukan satu kenyataan sederhana.
“Orang yang tepat bukanlah seseorang yang membuat hidupmu bebas dari luka. Ia adalah seseorang yang tetap menggenggam tanganmu ketika luka itu datang.” Kami tidak sedang mencari kisah yang sempurna. Kami hanya tidak ingin menjalaninya dengan orang yang berbeda.
Dengan penuh syukur kepada Allah SWT, kami memohon agar langkah ini senantiasa berada dalam ridha-Nya. Semoga pernikahan yang akan kami ikrarkan menjadi awal dari rumah tangga yang dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah; hati yang selalu saling menguatkan dalam iman, lisan yang lembut dalam kasih sayang, serta langkah yang senantiasa bersama menuju kebaikan. Semoga Allah menjaga cinta ini sebagai amanah, melimpahkan rezeki yang berkah dan barokah dalam setiap perjalanan kami, dan dengan rahmat-Nya mempertemukan kami kembali hingga di Jannah.