Pada malam itu, aku bermimpi bertemu dengan seorang wanita. Dalam mimpi tersebut, kami sama-sama mengenakan baju pengantin adat Jawa berwarna putih. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana wajahnya, tinggi badannya, postur tubuhnya, dan hidungnya yang mancung. Semuanya terasa begitu nyata.
Saat terbangun, yang tersisa hanyalah rasa penasaran. “Siapa dia?” Pertanyaan itu terus terngiang di pikiranku.
Selang 2-3 minggu kemudian, secara tidak sengaja aku membuka media sosial. Tanpa sengaja, aku menemukan sebuah akun. Dan pada saat melihat wajahnya, aku terdiam. Itu dia. Wanita yang sama persis seperti yang ada dalam mimpiku. Disitulah aku tahu namanya, Safitri.
Dengan perasaan campur aduk antara takjub dan penasaran, akhirnya aku memberanikan diri untuk berkenalan dengannya. Alhamdulillah, ia merespon dengan baik. Dari situlah kami mulai saling mengenal.
Setelah itu, aku menceritakan seluruh kejadian ini kepada kedua orang tuaku. Dan alhamdulillah, orang tuaku setuju dengan satu syarat. Aku harus menemui wanita tersebut terlebih dahulu, agar kami bisa saling mengenal secara langsung.
Pada pertemuan pertama kami, semuanya terasa nyaman. Kami mengobrol, saling mengenal, dan ternyata banyak hal yang membuat kami merasa cocok. Hari demi hari, keyakinan itu semakin menguat.
Setelah merasa yakin, aku pun memberanikan diri untuk menemui kedua orang tua wanita tersebut. Dengan niat baik dan tujuan yang jelas, aku menyampaikan bahwa aku ingin meminang putri mereka. Dan aku berjanji akan kembali datang bersama kedua orang tuaku untuk melamarnya secara resmi.
Kami hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk saling mengenal. Waktu yang singkat, namun cukup bagi kami untuk yakin bahwa inilah orang yang ingin kami ajak melangkah bersama.
Dan pada tanggal 5 Juli 2026, dengan penuh keyakinan dan restu dari kedua orang tua, aku datang bersama keluargaku untuk meminang wanita itu.