F
O
Tidak semua kisah cinta dimulai dengan tatapan mata. Ada yang dimulai dari sebuah notifikasi, sebuah email, lalu percakapan sederhana yang tak pernah disangka akan membawa dua hati menuju rumah yang sama. Semua bermula dari sebuah pertemuan yang tidak disengaja di Instagram. Tidak ada yang istimewa pada awalnya. Hanya dua orang asing yang saling menyapa, tanpa tahu bahwa percakapan kecil itu kelak akan menjadi bagian paling berarti dalam hidup mereka. Entah bagaimana, percakapan itu berlanjut dari IG ke email, lalu berpindah ke WhatsApp. Sebuah jalan yang cukup unik untuk dua orang yang bahkan belum Niat untuk bertemu..
Lucunya, saat itu kami sama-sama sedang lelah untuk kembali jatuh cinta. Tidak ada niat untuk terburu-buru memulai hubungan. Tidak ada harapan yang terlalu tinggi. Kami hanya berbincang, sesekali bertukar cerita, lalu membiarkan semuanya berjalan begitu saja. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Hingga lebih dari setahun berlalu sebelum akhirnya kami memutuskan untuk bertemu secara langsung. Pertemuan pertama kami sederhana: sebuah bioskop, sebuah film, dan dua orang yang akhirnya saling mengenal bukan hanya melalui layar ponsel.. Tidak ada kisah cinta yang langsung sempurna. Semuanya berjalan sewajarnya. Kami mulai mengenal kebiasaan, memahami karakter, dan perlahan menyadari bahwa ada sesuatu yang tumbuh di antara kami. Tanpa banyak rencana, dua orang yang awalnya hanya ingin berteman justru menemukan alasan untuk tetap tinggal..
Perjalanan kami tentu tidak selalu mudah. Katanya, Taurus dan Aquarius adalah dua zodiak yang sulit berjalan searah. Yang satu keras kepala, yang satu lebih memilih diam. Yang satu ingin dimengerti, sementara yang lain kadang terlalu sibuk menyimpan segalanya sendiri. Ozi dengan diam dan cueknya. Dina dengan keras kepala dan keteguhannya. Dua karakter yang sering kali bertolak belakang, dua cara berpikir yang tidak selalu sejalan, dan dua hati yang harus belajar bahwa cinta bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang bersedia memahami. Di antara perbedaan itu, Dina belajar untuk lebih banyak mengalah, memaklumi, dan mengerti. Sementara Ozi belajar bahwa diam saja tidak selalu cukup, bahwa cinta juga perlu diungkapkan, diperjuangkan, dan dijaga. Kami tidak selalu sepakat. Kami tidak selalu mudah memahami satu sama lain. Namun, di setiap lika-liku perjalanan, kami selalu menemukan alasan untuk kembali memilih satu sama lain..
Dari sebuah pertemuan yang tidak disengaja, percakapan yang sederhana, hingga perjalanan panjang yang penuh cerita, kami akhirnya sampai pada satu keyakinan: Mungkin sejak awal, kami memang tidak sedang mencari satu sama lain. Namun, semesta punya caranya sendiri untuk mempertemukan dua orang yang akhirnya saling menemukan. Kini, kami memilih untuk melangkah lebih jauh. Bukan karena perjalanan kami selalu mudah, melainkan karena kami ingin terus menjalaninya bersama. Bukan lagi sekadar dua orang yang saling berkirim pesan, bukan lagi hanya sepasang kekasih yang bertemu di sela kesibukan, tetapi dua hati yang memutuskan untuk membangun kehidupan dalam satu rumah, berbagi cerita, menghadapi hari-hari, dan menua bersama.
Kami tahu, pernikahan bukan akhir dari sebuah kisah.. Justru inilah awal dari cerita yang sesungguhnya.. Dan kali ini, kami tidak hanya ingin saling jatuh cinta. Kami ingin terus memilih satu sama lain, setiap hari, sepanjang usia. Dengan penuh rasa syukur dan bahagia,