“Ada ribuan cara takdir mempertemukan kita, salah satunya melalui untaian doa”
Awalnya, kami adalah dua orang asing yang berjalan di dunianya masing-masing. Tak pernah ada dalam bayangan, bahwa takdir akan mempertautkan kisah kami. Kami bertemu ketika aku menjadi guru di sebuah yayasan milik keluarganya. Meski dia tidak ikut mengajar di sana, namun semesta memiliki skenarionya sendiri. Hari itu, saat dia datang untuk melihat santri, pesantren, dan sekolah, matanya tertuju pada satu sosok yang sedang berbagi ilmu. Diam-diam namaku telah tertanam di dalam hatinya. Siapa sangka, pandangan pertama yang tampak biasa itu ternyata menjadi awal dari sebuah rasa yang telah lama diincar dan dijaga dalam doa olehnya.
“Cinta sejati tidak butuh waktu lama untuk memikirkan janji, ia hanya butuh keberanian untuk langsung menemui orangtua.”
Kami tidak melewati masa perkenalan yang berbelit-belit. Bagai arus yang menemukan muaranya, dia memilih jalan terbaik untuk membuktikan kesungguhannya. Tanpa ragu dan tanpa menunda, dia melangkahkan kaki bukan untuk sekadar mendekatiku, melainkan langsung datang menemui kedua orang tuaku. Dengan penuh takzim dan keyakinan, sebuah niat suci diutarakan, mengajakku untuk menyempurnakan separuh agama dalam ikatan pernikahan. Langkah berani darinya itulah yang menjadi jembatan terindah bagi kedekatan kami.
“Ketika dua takdir telah direstui bumi dan langit, sebuah janji suci pun mulai diikat.”
Setelah niat baik disambut dengan hangat, tibalah kami di hari di mana restu dua keluarga besar disatukan. Hari pertunangan kami menjadi saksi bisu di mana komitmen mulai dibangun. Hari itu adalah gerbang pembuka menuju pelaminan, sebuah kepastian bahwa perjalanan kami bukan lagi tentang ‘aku’ atau ‘kamu’, melainkan tentang ‘kita’.
“Cinta sejati tidak butuh waktu lama untuk memikirkan janji, ia hanya butuh keberanian untuk langsung menemui orangtua.”
Kami tidak melewati masa perkenalan yang berbelit-belit. Bagai arus yang menemukan muaranya, dia memilih jalan terbaik untuk membuktikan kesungguhannya. Tanpa ragu dan tanpa menunda, dia melangkahkan kaki bukan untuk sekadar mendekatiku, melainkan langsung datang menemui kedua orang tuaku. Dengan penuh takzim dan keyakinan, sebuah niat suci diutarakan, mengajakku untuk menyempurnakan separuh agama dalam ikatan pernikahan. Langkah berani darinya itulah yang menjadi jembatan terindah bagi kedekatan kami.