Love
Story
A Beginning We Never Expected
Kalau ada yang bilang cinta datang karena sering bertemu, mungkin kisah kami adalah salah satu buktinya.
Semuanya bermula di Kampus Ali Wardana, PKN STAN. Kami dipertemukan sebagai mahasiswa di kelas yang sama. Saat itu, kami hanyalah dua orang yang sedang mengejar mimpi, tanpa pernah menyangka bahwa pertemuan sederhana itu akan menjadi awal dari perjalanan kami.
Awalnya kami berencana belajar bersama di Kantin Parma. Niatnya benar-benar belajar. Tapi entah kenapa, setelah itu malah jadi sering mencari alasan untuk bertemu. Awalnya membahas tugas, lama-lama membahas hidup. Dari yang tadinya hanya bertanya, “Sudah kerjakan tugas?”, berubah menjadi “Sudah makan belum?”
Hari-hari di kampus pun terasa semakin menyenangkan. Belajar bersama, mengerjakan tugas, mencari makan, sampai saling mengingatkan untuk beribadah di gereja setiap hari Minggu. Semua terasa begitu sederhana, tetapi tanpa kami sadari, kebersamaan itu membuat kami semakin dekat. Meski begitu, kami masih sama-sama sepakat bahwa hubungan ini cukup sebagai sahabat. Katanya sih… supaya tidak ribet. Tapi ternyata, hati punya rencana yang berbeda.
When Friendship Became Love
(Semangkuk Bubur, Sebuah Keberanian)
Ada satu malam yang sampai sekarang selalu berhasil membuat kami tersenyum saat mengingatnya. Kami sama-sama menghadiri Konser Lyla di Student Center PKN STAN. Saat konser masih berlangsung, Ludya merasa kurang sehat dan memutuskan pulang ke kos tanpa sempat memberi kabar. Menyadari Ludya sudah tidak ada, Raccel mencarinya ke sana kemari hingga akhirnya tahu bahwa Ludya sudah kembali ke kos.
Mengetahui Ludya sedang kurang sehat, Raccel langsung berkeliling mencari makanan di sekitar Ceger Raya. Saat itu sudah hampir tengah malam dan hampir semua warung sudah tutup. Setelah beberapa kali berputar, akhirnya menemukan Bubur Ayam STAN yang masih buka. Mungkin bagi orang lain itu hanya semangkuk bubur ayam, tetapi bagi kami, perhatian sederhana di malam itu menjadi salah satu momen yang perlahan mengubah persahabatan menjadi sesuatu yang lebih istimewa.
Keesokan paginya, saat mengantar Ludya ke bandara, Raccel merasa kesempatan itu tidak boleh dilewatkan. Untuk pertama kalinya, ia memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya. Ludya memang tidak langsung memberikan jawaban. Baru tiga hari kemudian, jawaban sederhana itu akhirnya datang.
“Iya.”
Sejak 24 Juli 2019, perjalanan kami sebagai sepasang kekasih benar-benar dimulai.
Love Across the Distance
Belum lama menikmati masa-masa pacaran, pandemi COVID-19 datang dan mengubah banyak rencana.
Perkuliahan yang biasanya dipenuhi tawa di kampus berubah menjadi layar laptop dan panggilan video. Kami belajar bahwa rindu ternyata juga bisa hadir lewat notifikasi dan suara di telepon.
Setelah menyelesaikan pendidikan, kami kembali dipisahkan oleh penempatan kerja di daerah yang berbeda. Tidak mudah menjalani hubungan dengan jarak yang memisahkan. Ada rindu yang harus ditahan, ada pertemuan yang harus diperjuangkan, dan ada banyak doa yang terus kami panjatkan.
Namun dari sanalah kami belajar bahwa cinta bukan hanya tentang seberapa sering bertemu. Cinta adalah tentang tetap memilih orang yang sama, saling percaya, saling mendukung, dan tetap bertahan, meskipun keadaan tidak selalu mudah.
Choosing Forever
Tahun demi tahun berlalu. Kami bertumbuh bersama, merayakan setiap pencapaian, saling menguatkan dalam setiap tantangan, dan semakin percaya bahwa rumah bukanlah sebuah tempat, melainkan seseorang yang selalu membuat kita merasa pulang.
Kalau dipikir-pikir, semuanya memang berawal dari hal-hal yang sederhana. Dari bangku kuliah, rencana belajar di Kantin Parma, Minggu pagi di gereja, kepanikan Raccel mencari Ludya di tengah konser, semangkuk Bubur Ayam STAN di tengah malam, hingga keberanian untuk menyatakan perasaan… dan kesabaran menunggu jawaban selama tiga hari.
Siapa sangka, cerita sederhana itu akhirnya membawa kami ke hari yang selama ini kami impikan. Dengan penuh sukacita dan rasa syukur kepada Tuhan, kami siap memulai babak baru sebagai suami dan istri. Kami percaya, setiap langkah dalam perjalanan ini bukanlah sebuah kebetulan. Tuhan mempertemukan kami di bangku kuliah, menuntun kami melewati setiap musim kehidupan, dan akhirnya membawa kami berdiri di hadapan keluarga serta orang-orang terkasih untuk mengikat janji suci.
Dan ya… sampai hari ini, Bubur Ayam STAN tetap menjadi saksi kecil yang selalu mengingatkan kami bahwa cinta terkadang tumbuh dari perhatian yang paling sederhana.