R
S
Some stories are not planned, they are written by Allah. Cinta bukan sekadar tentang menemukan seseorang untuk dicintai, tetapi tentang menemukan seseorang yang bersedia tumbuh bersama, membangun kepercayaan, menjaga kejujuran, dan merendahkan hati untuk saling memahami. Tentang belajar memaafkan, bertanggung jawab, serta menerima satu sama lain dengan segala kurang dan lebihnya.
Tiga bulan sebelum keberangkatanku ke Jepang, aku (Rini) dan Mas Sayyid—atau yang lebih sering kupanggil, Mas (hehe 😉)—mulai saling mengenal dalam sebuah hubungan yang sederhana, berawal dari pertemanan. Saat itu, kami tak pernah benar-benar tahu ke mana cerita ini akan bermuara.
Dalam rencana yang kususun bertahun-tahun, Jepang adalah salah satu mimpi terbesarku. Aku ingin menjelajahi banyak tempat, bekerja, melanjutkan S2, dan kembali ke negeri yang perlahan menjadi tempat yang selalu ingin kutuju. Bahkan, persiapan untuk mendaftar S2 telah kususun selama kurang lebih satu tahun empat bulan. Aku pikir, perjalanan panjang itulah yang sedang Allah persiapkan untukku.
Namun, ternyata Allah memiliki skenario lain yang tak pernah terlintas dalam pikiranku. Di antara mimpi-mimpi yang ingin kukejar, Allah mempertemukanku dengan seseorang yang perlahan menjadi bagian penting dari masa depanku. Siapa sangka, perjalanan yang kubayangkan akan berlangsung lama di Jepang justru hanya berjalan selama lima bulan, sebelum akhirnya aku kembali ke Indonesia.
Dan dari sekian banyak rencana yang pernah kususun, ternyata ada satu hal indah yang tak pernah masuk dalam perkiraanku: menikah di tahun 2026.
Qadarullah, pada Minggu, 29 Maret 2026, kami mengikat sebuah janji dalam pertunangan. Hingga akhirnya, dengan mengucap Bismillah dan memohon rida-Nya, kami bersiap melangkah menuju hari yang telah kami nantikan, Rabu, 28 Oktober 2026.
Kini kami semakin percaya, bahwa skenario Allah selalu jauh lebih indah daripada apa pun yang mampu kami rencanakan. Bukan berarti semua mimpi harus berhenti setelah kata sah terucap!